Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : “nrimo ing pandum”
Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga
menjadi pemicu sebuah kemunduran, ganjalan dalam berkembangnya seseorang
ke tingkatan yang lebih tinggi/baik dalam berbagai aspek kehidupan.
Memang tak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi
tidak berhenti hanya sampai disitu. Sikapa qonaah menuntut siapa saja
untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya,
sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas. Selanjutnya
diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai
perwujudan menerima apa adanya, tasyakkur tercermin dari kelapangan hati
dan kesabaran, tafakkur sebagai wujud evaluasi.
contoh kecil orang yang sedang usaha berjualan. suatu saat jualannya
sepi. ketika ia menghadapi itu, pertama ia ikhlas, kemudian bersyukur,
“Alhamdulillah…. dengan kesempitan ini Ya Allah kau ingatkan aku, kau
jadikan aku mendekat kepadaMu”. Orang ini akan semakin memacu ibadahnya,
sehingga semakin dekatlah ia kepada Allah, dengan ijin Allah tentunya.
dengan semakin dekat kepada Allah maka semakin lapang hatinya menjalani
kesempitan ini, yang ada adalah kelurusan berfikir. Langkah selanjutnya
adalah tafakkur, evaluasi. Kenapa sih orang2 seakan menjauh dari tokoku,
apakah karena tokoku kotor sehingga tak menarik keinginan pembeli,
apakah harga jualku terlalu mahal, apakah pelayananku yg tidak disukai
pembeli… evaluasi demi evaluasi dilakukan sehingga dari situ lahirlah
perbaikan-perbaikan. 2 manfaat sekaligus, ibadah semakin lancar, urusan
dunia semakin lancar.

0 komentar:
Posting Komentar